Mungkinkah Diriku Yang Telah Banyak Berdosa Ini Bisa Menjadi Orang Yang Bertaqwa??

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Ali Imron : 133-136)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Setelah kita membaca dan menghayati firman Allah Ta’ala diatas maka akan kita dapati jawaban dari pertanyaan kami. MUNGKIN, bahkan SANGAT MUNGKIN seorang pendosa dapat mencapai derajat orang yang bertaqwa. Tentunya sesuai dengan apa yang telah Allah syaratkan juga dalam firman diatas.

Ciri Seorang Yang Bertaqwa

Derajat muttaqin merupakan derajat seorang mukmin yang tinggi di sisi Allah. Allah juga telah memerintahkan kita untuk bertaqwa sebagai bekal kita hidup, dan juga bekal di yaumil qiyamah nanti.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan (QS Al Baqarah 197)

Dalam Surat Ali Imron diatas, Allah Ta’ala menyebutkan 3 ciri orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan ampunanNya dan juga mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Pertama, orang yang bertaqwa adalah orang yang gemar menafkahkan hartanya di jalan Allah, baik dalam kondisi lapang (banyak harta) maupun kondisi sempit (kekurangan harta).

Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu menahan amarahnya, mudah memaafkan kesalahan orang lain dan memberikan udzur kepada orang lain atas kesalahannya.

Ketiga, orang yang bertaqwa adalah orang yang pernah melakukan perbuatan dosa, baik keji maupun munkar, namun dia segera mengingat Allah dan mengingat betapa kerasnya adzab Allah, kemudian dia segera memohon ampun pada Allah atas dosanya yang telah dia lakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Imam Asy Syaukani menafsirkan kata al fahisyah sebagai dosa besar, sedangkan makna kata dholamu anfusahum sebagai dosa kecil[1]. Oleh karenanya, secara tersirat Imam Asy Syaukanipun meyakini bahwa pelaku dosa besarpun dapat diampuni dosanya oleh Allah ketika dia bertaubat dengan taubat nasuha.

Terdapat sebuah hadits yang menggambarkan betapa Allah adalah Al Ghofur dan Ar Rohim. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا – وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا – فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ – وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ – فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِى . ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ، ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ، فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ – أَوْ أَصَبْتُ – آخَرَ فَاغْفِرْهُ . فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِى ، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا – وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا – قَالَ قَالَ رَبِّ أَصَبْتُ – أَوْ أَذْنَبْتُ – آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِى . فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِى – ثَلاَثًا – فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan sebuah dosa, kemudian dia berkata “ Wahai Tuhanku, aku telah berdosa, maka berilah aku ampunan!”. Maka Allah berfirman “Tahukah hambaku ini bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa, maka Aku mengampuni hambaku.” Kemudian hamba ini berhenti berbuat dosa sesuai kehendak Allah. Setelah itu hamba ini berbuat dosa lagi, kemudian dia berkata lagi “ Wahai Tuhanku, aku telah berdosa, maka berilah aku ampunan!”. Maka Allah berfirman “Tahukah hambaku ini bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa, maka Aku mengampuni hambaku.” Kemudian hamba ini berhenti berbuat dosa sesuai kehendak Allah. Setelah itu hamba ini berbuat dosa lagi, kemudian dia berkata lagi “ Wahai Tuhanku, aku telah berdosa, maka berilah aku ampunan!”. Maka Allah berfirman “Tahukah hambaku ini bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa, maka Aku mengampuni hambaku, maka hendaknya dia lakukan apa saja yang dia mau![2] ” (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Al Hakim, Baihaqi. Ini adalah lafadz Bukhori)

Jangan Putus Asa!

Belumkah kita mendengar firmanNya dalam sebuah hadits?

يَا عِبَادِي إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Wahai hambaku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan sepanjang malam dan siang, dan Aku telah memaafkan kesalahanmu semua!?” (HR Muslim)

Belum jugakah kita membaca dan merenungi firmanNya ini?

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar : 53)

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ampunan Allah ini berlaku umum dan mutlak untuk semua dosa, bahkan sampai dosa kesyirikan dan dosa besar –dengan syarat dia bertaubat[3].

Bagaimana bertaubat?

Insya Allah akan kita bahas bagaimana cara bertaubat yang benar agar diterima disisi Allah dalam risalah selanjutnya. Allahul muwafiq.

Wa shallallahu ‘ala rasulina Muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin

Allafahu

Al faqir ila rahmati wa maghfirati rabbihi

Abu Luqman Bagus Setiawan


[1] Fathul Qodir oleh Imam Asy Syaukani (asy syamilah)

[2] Adapun maksud firman Allah dalam akhir hadits tersebut “hendaknya dia lakukan apa saja yang dia mau!” bukan berarti perintah Allah kepada manusia untuk berbuat maksiat dan dosa dengan bebas. Maknanya adalah Allah akan memaafkan dosanya apa saja selama dia bertaubat atas dosanya. (Fatawa Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta’, diketuai Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, wakil Syaikh Abdur Rozaq ‘Afifi, anggota Syaikh Abdullah ibn Ghodayan rahimahumullah)

[3] Auliyaur Rahman wa Auliyausy syaithon, Ibnu Taimiyyah. Asy-syamilah

4 Komentar

  1. 4 Mei 2010 pada 2:07 pm

    alhamdulillah

    baarakallahufiikum

    • bagussetiawan said,

      8 Mei 2010 pada 10:44 pm

      fikum barakallah

  2. Mas Amin Nganjuk said,

    20 Juni 2010 pada 8:15 pm

    Ijin Ngopi artikelnya nggeh, mas Imam…

    • bagussetiawan said,

      26 Juni 2010 pada 12:53 am

      waah sekarang dah lepas amanah,, Imamnya dah tak kasih hanif hee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: