UKHTII… ANDAI ENGKAU SALAFI…

sunflower

Kalimat itulah yang terlintas di hati seorang ikhwan ketika tidak sengaja seorang bidadari nan cantik lewat di depannya. Yaa, seberkas doa dan harapan yang ‘mulia’ dari seorang ikhwan saat melihat seorang akhwat ajnabi yang sering mengikuti halaqah liqo di dekat masjidnya tiba-tiba lewat di depannya pagi itu, seperti biasa mengayuh sepeda mininya..

Ini hanya sepenggal ilustrasi belaka. Mungkin doa-doa dan harapan-harapan seperti inipun telah dialami banyak ikhwan yang iltizam dengan manhaj yang mulia ini.

Mendoakan kebaikan, apa salahnya?

Mendoakan kebaikan untuk saudaranya tentu saja merupakan suatu kebaikan. Pada banyak hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberikan semangat pada kaum muslimin untuk mendoakan saudaranya. Bahkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan akan hilang kesempurnaan iman seseorang tatkala dia tidak menginginkan kebaikan ada pada saudaranya! Beliu bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidak sempurna iman seorang diantara kalian sampai dia menginginkan sebuah kebaikan ada pada saudaranya sebagaimana dia menginginkan sebuah kebaikan pada dirinya. (HR. Bukhori, Muslim, An Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya dari jalan Anas ibn Malik marfu’)

Bukankah kita menginginkan semua kaum muslimin juga dapat merasakan betapa manisnya berislam sesuai syariat Allah dan RasulNya dengan pemahaman para shahabat yang mulia ini? Bahkan jika kita menghendaki Malaikat mendoakan kita agar tetap  teguh diatas manhaj salaf ini, hendaknya kitapun sering mendoakan orang lain agar kembali pada manhaj yang haq ini. Dari shahabat Abu Darda’, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من عبد مسلم يدعولأخيه بظهر الغيب إلا قال الملك و لك بمثل

Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya, kecuali Malaikat akan berkata,”Dan semoga untukmu pula doa itu”. (HR. Muslim)

Kenapa Engkau Hanya Mendoakan Si Dia Saja??!

Telah kita ketahui bahwa mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin merupakan perkara yang terpuji. Namun dalam kasus ini timbul tanda tanya besar, kenapa engkau hanya mendoakan dia saja?? Sementara tatkala engkau menjumpai laki-laki, atau perempuan ajnabi yang lain yang ‘tidak semenarik bidadarimu’ bahkan tidak terbesit rasa ingin mendoakannya??

Amat baguslah apa yang tela disampaikan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sudah kita hafal,

إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوي

Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan niatnya..(Muttafaqun ‘alaih)

Jika saja semuanya hanya karena kita menginginkan kebaikan untuknya dan mengharapkan wajahNya semata, maka berdoa tentu tiada salahnya, bahkan ini adalah keutamaan. Namun janganlah sekali-kali kita bermain dengan hati kita saat berurusan dengan perempuan! Janganlah doa yang suci itu kemudian kita ikuti dengan harapan-harapan yang membuat kita terlena dari ketaatan padaNya. “Kalau sudah ngaji, berarti kan nanti terbuka kesempatan bagi ana untuk begini dan begitu… setelah dia ngaji, pokoknya ana akan segera ini dan itu…” dan angan-angan lain yang akan terbawa saat kita sedang shalat, terbawa saat kita sedang tholabul ‘ilm.. Yaa, al ‘isyq telah menjangkit hati kita gara-gara harapan-harapan semata.. Na’uzubillahi min dzalik..

Takutlah Pada Fitnah Perempuan

Cukuplah Kalamullah dan Hadits RasulNya yang memperingatkan kita akan bahayanya fitnah seorang perempuan pada laki-laki.

Secara khusus Rasulullah menyebutkan bahayanya fitnah perempuan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu,

فاتقوا الدنيا و اتقوا النساء ، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء

Jagalah diri kalian dari fitnah dunia dan fitnah perempuan. Sesungguhnya fitnah yang menimpa Bani Israil adalah pada masalah perempuan (HR Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shohihah, hadits ke-911 –asy syamilah)

Pada hadits yang lainnya, Rasulullah juga bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِى النَّاسِ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki melainkan fitnah perempuan (HR Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari jalan Usamah ibn Zaid, Ash-Shohihah 2701 –asy syamilah)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati-hati kita dari fitnah syubhat maupun syahwat.

Selesai ditulis Senin jam 5 sore 26 Okt 2009

Kamar atas, Masjid Paling Rame

Abu Luqman ibn Hamzah, ghafarahullah

9 Komentar

  1. yhougam said,

    2 November 2009 pada 7:34 pm

    Berkata Ustadz Abu Haidar dalam sebuah daurahnya, “Terkadang setelah menikah, seorang ikhwan baru mendapati akhlaq asli sang akhwat yang ternyata cerewet, pemarah, dan sebagainya yang perlu ia luruskan. Nah, kalau dengan akhwat ngaji saja kadang masih diluruskan, bagaimana pula dengan yang belum ngaji??”

  2. bagussetiawan said,

    3 November 2009 pada 11:17 am

    eh tapi ada juga lho youg akhwat yg blm ngaji tapi mmg pembawaan akhlaqnya bagus…

  3. wawan said,

    3 November 2009 pada 12:15 pm

    Ilustrasi di atas diambil dari kisah nyata ato piktif, Kang? Tapi bukanya ada ikhwah yang nikah ama akhwat *M akhirnya si akhwat mau rujuk ikut suami. Sape-sampe di salah satu blog ada ikhwan nulis cerita “Kenapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya?”. He3

    • bagussetiawan said,

      4 November 2009 pada 9:21 pm

      ilustrasi masss, tapi kalau mmg ada nyatanya yaa.. ndak tau naa. adapun mmg ada bahkan kita jumpai banyak ikhwah menikah dengan akhwat tarbiyah,, menurut ana y ndak apa-apa asal nantinya bisa mendidik..(yg dah ngaji masih banyak tu lhoo..!) Adapun yang jadi masalah disini bukan nikahnya, tapi al isyq yg tak critain lewat artikel diatas

  4. anonim said,

    11 Maret 2010 pada 9:52 am

    emangnya ikut nagji dalam sebuah halqah tarbiyah itu salah?ana kira itu hanya wasilah, yang penting adalah muatan tarbiyahnya apa, manhajnya salaf atau bukan. ‘afwan ana adalah akhwat tarbiyah, tp ana bukang ngaji di Kammi,HT ato IM.pokoknya halaqah tarbiyah tsb hanya kmi jadikan wasilah saja untuk pembinaan akhwat2.

  5. bagussetiawan said,

    14 Maret 2010 pada 4:12 pm

    kepada ukhti anonim.
    Kami bahagia atas kepedulian anda terhadap din Anda. Sesungguhnya manhaj salaf adalah manhaj yang haq, manhaj atau cara beragama yang 100% benar, yakni mengambil dalil dari Al Quran dan Al Hadits dengan pentafsiran dan penjelasan dari kalangan sahabat, tabiin, dan kalangan ahlul ilm yang lain. Bukan menjelaskan Al Quran dan Al Hadits dengan pemahaman kita masing-masing. Maka inilah manhaj yang benar.
    Sedangkan SALAFY atau SALAFI maka itu adalah orang-orang yang menisbatkan diri ingin konsisten dengan Al Quran dan Al Hadits sesuai apa yang dipahami oleh para Ulama as-Salaf. Maka seorang salafy -karena lemah hatinya boleh jadi dia bermaksiat, boleh jadi dia melakukan bidah, atau bahkan terjerumus dalam kesyirikan -wal ‘iyadzu billah.
    Adapun mengikuti halaqoh khusus akhwat yang TIDAK ADA KEMUNGKARAN didalamnya -semisal ghibah, atau mengajarkan ajaran yang menyelisihi Al Quran dan As sunnah di dalamnya. Dan halaqoh tersebut tidak membahas perkara yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya baik dunia maupun akherat, maka halaqoh yang memenuhi syarat seperti ini tidak mengapa.
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
    Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata yang baik atau diam (muttafaq alayh)
    Allahu a’lam

  6. hanafi said,

    30 Mei 2010 pada 1:10 am

    @ bagus:: orang kristen pun juga banyak yang akhlaknya bagus…
    @ wawan:: ada juga ulama yang ingin mendakwahi sepupunya yang khwariji, dengan menikahinya..malah terseret ke pemikiran khwariji

    @anonim:: wadahnya gak salah “cuma” akhwatnya saja yang terlalu bodoh untuk lama2 berada disana. buka mata, buka telinga..jangan pakai perasaan..lihatlah kebenaran dengan al qur’an dan sunnah dengan kembali merujuk ke manhaj yang benar…manhaj yang salafush sholih. perbanyak membaca buku agama, jangan banyak rapat2 aja, atau malah keluar rumah untuk demo…kenapa halaqoh tarbiyah itu banyak “akhwatnya” ???

    • sarah ummu muhammad said,

      30 Desember 2010 pada 6:04 pm

      terlalu kasar dalam memberi nasehat..

      • bagussetiawan said,

        30 Desember 2010 pada 11:58 pm

        Semua komentar sengaja saya tampilkan tanpa mengubah satupun huruf. Mohon maaf jika ada hal yang salah atau kasar dalam menjawab.

        “inna rifqa laa yakuunu fi syai in illa zaanahu, wa laa yunza’u min syai in illa syaanah”

        inilah nasihat Rasul pada kita, pakailah kelemah lembutan dalam berdakwah sebisa mungkin. Allahul muwafiq


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: