IKHLAS DALAM NIAT

25310Sudah menjadi hal yang umum di kalangan kaum muslimin tentang ikhlas dan niat, bahkan kedua kata ini sering sekali terucap dalam kehidupan sehari-hari, namun sayang seribu sayang banyak diantara kaum muslimin yang belum mengilmui kaifiyyah ikhlas dalam hal niat ini.

Keutamaan ikhlas dalam niat

Niat mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,“Sesungguhnya semua amal itu bergantung pada niatnya ..”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini adalah hadits yang agung, sampai-sampai dikatakan oleh sebagian ulama salaf “Hendaknya hadits ini dijadikan pembuka dari kitab-kitab ilmu dien, dan dengan hadits ini pula Imam Bukhari rahimahullah memulai kitab shahihnya.” (Syarh Arba’in an-nawawiyyah syaikh Shalih bin Abdil Aziz alu-Syaikh). Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan “para ulama juga menyebut hadits niat ini setengah dari ibadah karena didalamnya mencakup timbangan amalan batin”. Tidaklah amal shalih kita sehari-hari diterima oleh Allah melainkan harus disertai dengan niat, padahal niat yang pahalanya dicatat disisi Allah ta’ala adalah mengikhlaskan suatu amal shalih kepada Allah ta’ala saja tanpa disertai rasa riya’ dan sum’ah.. Maka bagaimana kita bisa meniadakan ikhlas dalam kehidupan kita padahal setiap ibadah yang kita lakukan harus disertai dengan niat, dan niat yang diterima adalah niat yang diikhlaskan kepada Allah saja?!

Ikhlas yang terucap?!

Disinilah kebanyakan kaum muslimin belum mengetahui kaifiyyah dalam ikhlas, kebanyakan dari mereka justru mengucapkan ‘ikrar keikhlasan’ mereka, seperti ucapan ”Sungguh aku telah mengikhlaskan pemberianku kepadamu ini karena Allah…” begitu pula dengan ucapan niat dalam shalat yang sering diucapkan oleh sebagian besar kaum muslimin, bahkan orang yang bergelar ustadz, da’i, kyai atau yang lain dengan ucapan “Ushally……lillahi ta’ala” serta ucapan yang lain. Padahal niat dan ikhlas sebagaimana dalam hadits niat diatas adalah perkara batin, bukan perkara lahir. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi mengatakan,”Melafadzkan niat teranggap sebagai perbuatan bid’ah. Bukankah Allah ta’ala berfirman, yang artinya,”Katakanlah,”Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa-apa yang di langit dan apa-apa yang dibumi?”Dan Allah mengetahui segala sesuatu”.(Q.S. Al Hujuraat:16). Dapat kita bayangkan bagaimana seseorang yakin niatnya dinilai ikhlas padahal dia menyebut-nyebut amalannya dihadapan manusia dengan mengikrarkan niat? Maka wahai kaum muslimin, sungguh mengucapkan ikhlas dan niat itu lebih dekat ke perbuatan sum’ah.

Mengikhlaskan niat, mudahkah?

Mewujudkan ikhlas bukanlah perkara yang mudah. Ar-Razi berkata,”Sesuatu yang paling sulit di dunia adalah ikhlas, aku sudah bersungguh-sungguh menghilangkan riya’ dari hatiku, tapi seolah timbul riya’ dengan warna yang lain”. Kita saksikan bagaimana ulama’ sezuhud Ar-Razi masih takut niatnya tidak murni diikhlaskan kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan kita? Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa “Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolby ‘ala diinik” yang artinya”Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamamu”(HR. Ahmad, Hakim, Tirmidzi, dishahihkan oleh Tirmidzi). [Bagus P. Setiawan]

2 Komentar

  1. Ari Wahyudi said,

    14 Maret 2009 pada 4:42 am

    alhamdulillah, ketemu juga blog antum… baarakallahu fiik

    • bagussetiawan said,

      26 Maret 2009 pada 10:08 pm

      iya mas ndelik bgt je. wafiik barakallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: