Belajar Dari Kisah Maryam ‘alayhassalam

Sering terbesit di hati ini untuk mengenang lagi cerita seorang ibu, yang Allah Ta’ala telah memberi tazkiah kepadanya. Bahkan dialah satu-satunya wanita di muka bumi ini yang Allah Ta’ala mengabadikan namanya dalam salah satu surat dari Al Quran Al ‘Adzim. Ya, siapa lagi kalau bukan beliau, Maryam bintu Imron, ‘alayhimas salam. Dalam Al Quran, penyebutan nama beliau sangat banyak sekali, salah satu pujian yang Allah sematkan pada Maryam bintu Imron alayhimas salam adalah beliau termasuk wanita yang taat. Allah berfirman,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. (QS. At Tahrim : 12)

Lebih dari itu, melalui MalaikatNya (Jibril), Allah memberikan kabar yang lebih menggembirakan bagi Maryam bintu Imron dalam ayat-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS Ali Imron : 42)

Baca dan renungkanlah kisah beliau ‘alaihassalam dalam awal surat Maryam atau surat Ali ‘Imron mulai dari ayat ke-33, niscaya akan kita dapati sebuah kisah indah yang penuh dengan ibroh.

Semenjak sebelum lahirnya Maryam, ibundanya telah bernadzar pada Allah Ta’ala agar anaknya nanti menjadi orang yang berkhidmat di Baitul Maqdis dan tidak tersibukkan dengan kesibukan dunia[5]. Namun Allah Ta’ala menghendaki hal yang lain, ternyata sang ibu melahirkan seorang anak perempuan. Ya, anak perempuan inilah yang kemudian diber nama Maryam oleh ibunya. Dari potongan cerita ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil,

  1. Sebagian keutamaan laki-laki dibandingkan perempuan, berdasarkan firman Allah Ta’ala “dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan”.
  2. Bolehnya memberi nama bagi bayi begitu bayi lahir.
  3. Bolehnya seorang ibu memberikan nama bagi bayinya, selama suaminya memberikan izin[6].

Kita lanjutkan cerita..

Ibu Maryam kemudian memohonkan sebuah doa yang amat mulia bagi puterinya dan keturunan puterinya selanjutnya, dan hendaknya setiap ibu selalu memohonkan kebaikan bagi anaknya  kepada Allah sebagaimana ibunda Maryam mendoakan Maryam. Doa tersebut Allah abadikan dalam ayatnya,

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

….. dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imron : 36)

Keutamaan Membaca QS Ali Imron : 36

Ibnu Katsir rahimahullah menyampaikan sebuah hadits terkait dengan ayat yang mulia ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِن مَوْلُودٍ يُولَدُ إلا مَسَّه الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلّ صَارخًا مِنْ مَسِّهِ إيَّاهُ، إلا مَرْيَم َوابْنَهَا”. ثم يقول أبو هريرة: اقرأوا إن شئتم: { وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

“Tidak ada diantara bayi yang lahir kecuali syaithon akan menyentuhnya saat dilahirkan, kemudian bayi itu akan menangis karenanya, kecuali Maryam dan anaknya (Isa bin Maryam)”, kemudian Abu Hurairah berkata “Bacalah jika kalian menghendaki (Surat Ali Imron : 36).  (HR Bukhori dan Muslim)[7]

Maryam Kecil Tumbuh Menjadi Dewasa

Kemudian Allah As Samii’ud Du’a mengabulkan nadzar yang dipanjatkan oleh ibunda Maryam sebagaimana ayat diatas. Dan Allah mengabadikan terkabulnya doai ibunda dari Maryam tersebut dalam ayat sesudahnya,

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا

Maka Allah menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.. (QS Ali Imron : 38)

Lihatlah bagaimana Allah senantiasa memberkahi pertumbuhan Maryam. Salah satu keberkahannya adalah Allah menyerahkan pemeliharaan Maryam pada Zakaria[8]. Zakaria adalah suami dari saudari  Hannah bintu Faqudh (ibu Maryam), atau tepatnya Zakaria adalah paman dari Maryam[9] berdasarkan sebuah hadits shohih, Rasulullah bersabda,

فإذا بِيحيى وعِيسَى، وَهُمَا ابْنَا الخَالَةِ

Yahya dan Isa (‘alaihima as salam), keduanya adalah anak dari dua bersaudara. (HR Bukhori dan Ahmad)

Maksud dari hadits tersebut adalah bahwa ibunda Yahya adalah saudarinya nenek Isa (Hannah bintu Faqudh).

Terdapat sebuah pendapat tentang bagaimana cerita diserahkannya Maryam oleh ibunya pada Zakaria yang dikisahkan oleh Imam Al Baghowy dalam tafsirnya. Setelah melahirkan Maryam, ibunya menaruh bayi Maryam dalam kain kemudian membawa bayi Maryam ini ke biara dan menaruh bayi Maryam di sisi ahli ibadah saat itu. Maka para ahli ibadah yang lain berlomba-lomba untuk memperebutkan bayi Maryam. Maka Zakaria berkata, “ Aku lebih berhak atas pemeliharaan bayi ini daripada kalian! Karena istriku adalah saudarinya!”. Ahli ibadah mengatakan, “Kami tidak akan memberikannya! Seandainya aku harus memberikan bayi ini kepada yang paling berhak, maka akan kuberikan kepada ibunya yang telah melahirkan dia! Kita akan memilih, siapa yang keluar sebagai pemenang dalam undian ini maka dia berhak atas bayi ini.” Maka pergilah keduapuluh sembilan ahli ibadah[10] tersebut ke sebuah aliran sungai[11], kemudian para ahli ibadah ini melemparkan pena-pena mereka. Barangsiapa yang penanya tetap dalam aliran tersebut dan naik ke permukaan sungai maka dialah pemenangnya. As Sady rahimahullah menambahkan, setelah itu, ternyata pena Zakaria tetap mengambang di permukaan air seperti pena yang berada di atas permukaan tanah, sedangkan pena ahli ibadah yang lain terbawa oleh aliran sungai. Maka menanglah Zakaria, dan dia berhak atas pemeliharaan Maryam bintu Imron[12]. Dan perlombaan melempar pena ini diterangkan Allah dalam ayatNya yang lain,

….إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَم….

…ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam… (QS Ali Imron : 44)

Allah juga mengabarkan tentang keistimewaan Maryam dan keataatannya dalam beribadah pada Allah di dalam sebuah mihrab yang telah disediakan Zakaria ‘alaihissalam untuk Maryam. Allah berfirman,

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا …

Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya… (QS Ali Imron :  37)

Demikianlah Allah mengisahkan betapa juhudnya Maryam dalam beribadah pada Robbnya. Kemudian tentang makna rizqo dalam ayat diatas, sebagian besar ulama mengatakan bahwa yang dimaksud rizqo adalah rizki dari Allah untuk Maryam berupa buah-buahan musim hangat pada saat mengalami musim dingin, dan rizki berupa buah-buahan musim dingin pada saat mengalami musim panas [13]. Pendapat yang lain mengatakan yang dimaksud rizqo dalam ayat tersebut adalah rizqi dari Allah untuk Maryam berupa ilmu, atau suhuf yang didalamnya terdapat ilmu[14].

…قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Ali Imron : 37)

Inilah adab yang mulia dari seorang hamba atas nikmat dan pemberian dari Robbnya. Tatkala Zakaria heran darimana datangnya rizqi tersebut, Maryam mengembalikan seluruh urusan rizqi kepada Ar Rozzaq. Hendaknya masing-masing dari kita mengambil pelajaran dari potongan kisah ini.

Selanjutnya, Insya Allah dilanjutkan dengan kisah Maryam ‘alayhassalam tatkala beranjak dewasa dan kejadian luar biasa yang dialaminya.

Masjid Pogung Raya,

Al Faqir ila rahmati rabbihi

Abu Luqman


[1] Lihat Jami’ul Bayan fi Takwilil Quran karya Ibnu Jarir Ath Thobary, dan Shohih Tafsir Ibnu Katsir, karya Syaikh Musthofa Al ‘Adawy dalam tafsir Ali Imron : 33.

[2] Lihat Zaadul Masir karya Ibnul Jauzy tentang penjelasan Imron dalam tafsir Ali Imron : 33.

[3] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir, karya Syaikh Musthofa Al ‘Adawy dalam tafsir Ali Imron : 33.

[4] Lihat Ma’alimut Tanzil karya Imam Al Baghowy dalam tafsir Ali Imron : 33

[5] Inilah pendapat dari Ath Thobary, Ibnu Katsir, Al Baghowy, dan banyak ulama tafsir lain.

[6] Lihat Tafsir As-Sa’di, karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah

[7] Dalam satu riwayat lain dari Abu Hurairah menambahkan bahwa Rasulullah juga membaca ayat QS Ali Imron : 36 tersebut setelah beliau menyampaikan hadits tersebut. Hadits ini disampaikan Al Hafizh Ibnu Katsir dan beliau menyandarkan riwayat ini kepada Al Hafizh Ibnu Jarir Ath Thobari, lihat Tafsir Al Quran Al ‘Adzim Ibnu Katsir (tahqiq Samiy ibn Muhammad Salamah, cet. Darut Thoyibah Linnasyir wat tauzi’). Namun Syaikh Musthofa Al ‘Adawy dalam Shohih Tafsir Ibnu Katsir (cet. Dar Ibn Rojab) tidak menulis perkataan Ibnu Katsir ini,  dan juga setelah merujuk pada Jami’ul Bayan fi Takwilil Quran karya Ath Thobary (tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, cet. Muasasah Ar Risalah)), ternyata tambahan hadits Nabi membaca QS Ali Imron : 36 tersebut juga tidak saya temukan. Allahu A’lam

[8] Zakaria bin Adzin bin Muslim bin Shoduq, seorang nabi, termasuk keturunan dari Sulaiman bin Daud alaihimus salam. Lihat Ma’alimut Tanzil Tafsir Al Baghowy dan tafsir yang lain.

[9] Lihat Jami’ul Bayan fi Takwilil Quran dan Tafsir Ibnu Katsir

[10] Dalam pendapat lain dikatakan 27 ahli ibadah, lihat Ma’alimut Tanzil Tafsir Al Baghowy

[11] As Sadiy rahimahullah mengatakan bahwa sungai tersebut adalah sungai Ardan. lihat Ma’alimut Tanzil Tafsir Al Baghowy

[12] lihat Ma’alimut Tanzil Tafsir Al Baghowy

[13] Inilah pendapat Mujahid, Ikrimah, Said ibn Jubair, Abu Sya’tsa, Ibrahim an Nakho’i, Adh Dhohak, Qotadah, Ar Robi’ ibn Anas, Asy Sya’by dan ulama lainnya rahimahumullah. Lihat Tafsirul Quran al ‘Adzim oleh Ibnu Katsir.

[14] Inilah pendapat yang lain dari Mujahid rahimahullah, idem

About these ads

4 Komentar

  1. Damar said,

    20 Maret 2010 pada 9:26 am

    Bismillah,

    masyaAlloh. tidak sia2 Gus antum hafal suroh Ali Imron. ^_^
    blog ku rung ta isi opo2 Gus. Durung iso nggunakke.

  2. bagussetiawan said,

    24 Maret 2010 pada 2:38 pm

    halah, ku jg cuma belajar mar. . semangat!

  3. ukhtni said,

    26 Desember 2010 pada 6:43 pm

    afwan,lanjutannya mana akh?

    • bagussetiawan said,

      30 Desember 2010 pada 11:59 pm

      afwan mbak, sebenarnya dulu sudah saya posting, qodarullah kok tiba tiba tidak tertampil di web. master data saya juga qodarullah hilang. smoga Allah mudahkan untuk mencarinya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: